Dewan Minta Pejabat Baru tak Sekadar Mengisi Jabatan, Harus Ada Perubahan Kinerja yang Nyata
POSKOTAKALTIMNEWS, BERAU : Perombakan struktur birokrasi di lingkungan Pemerintah Kabupaten Berau melalui mutasi besar-besaran telah dilakukan. Sejumlah pejabat tinggi pratama kini menempati posisi baru, membawa harapan akan lahirnya energi segar dalam menjalankan roda pemerintahan.
Namun, di balik
euforia pergantian jabatan tersebut, tuntutan kinerja langsung mengemuka.
Anggota Komisi I DPRD Berau, Thamrin, mengingatkan bahwa mutasi bukan sekadar
seremoni atau formalitas administratif, melainkan awal dari ujian sesungguhnya
bagi para pejabat yang dipercaya mengemban jabatan baru.
Menurutnya, pejabat
selevel Kepala Organisasi Perangkat Daerah (OPD) tidak lagi berada pada tahap
belajar. Dengan pengalaman dan rekam jejak kepemimpinan yang telah dimiliki,
mereka dituntut untuk langsung bergerak cepat tanpa harus menunggu waktu
adaptasi yang panjang.
“Tidak ada waktu
untuk beradaptasi terlalu lama. Pengalaman memimpin sudah cukup, jadi harus
langsung fokus pada pencapaian program prioritas,” tegasnya.
Mutasi yang dilakukan
oleh Bupati Berau, Sri Juniarsih, dinilai sebagai langkah yang wajar dalam
dinamika birokrasi. Selain sebagai upaya penyegaran organisasi, rotasi jabatan
juga diharapkan mampu memperbaiki kinerja perangkat daerah yang sebelumnya belum
optimal.
Namun demikian,
Thamrin menekankan bahwa pergantian posisi harus menjadi momentum perbaikan
yang nyata. Ia mengingatkan agar tidak ada lagi program pemerintah yang
berjalan lambat atau bahkan terhenti hanya karena pergantian pimpinan.
Menurutnya, pejabat
yang baru dilantik harus mampu segera melakukan konsolidasi internal, memahami
persoalan di instansinya, serta memastikan seluruh program berjalan sesuai arah
kebijakan Kepala Daerah.
“Pergantian ini harus
jadi titik balik. Program yang sebelumnya belum optimal harus segera
dituntaskan, bukan malah terhambat karena pergantian pejabat,” ujarnya.
Lebih jauh, ia
menegaskan bahwa ukuran keberhasilan seorang pejabat tidak hanya dilihat dari
laporan administratif semata, tetapi dari dampak nyata yang dirasakan
masyarakat. Program yang baik, kata dia, adalah program yang benar-benar
berjalan dan memberikan manfaat, bukan sekadar tersusun rapi di atas kertas.
“Harapan kepala
daerah tentu sama dengan kita. Mereka yang ditunjuk ini harus mampu memberikan
kontribusi nyata dalam mengeksekusi program-program yang telah direncanakan,”
tambahnya.
Di sisi lain, Thamrin
juga memberikan perhatian serius terhadap masih adanya sejumlah jabatan Kepala
OPD yang kosong pasca mutasi. Kekosongan ini dinilai berpotensi mengganggu
stabilitas kinerja pemerintahan, terutama dalam hal pelayanan publik yang
membutuhkan kepastian kepemimpinan.
Ia pun mendesak agar
pemerintah daerah segera mengisi posisi-posisi strategis tersebut dengan
pejabat definitif, sehingga tidak terjadi kekosongan yang berlarut-larut.
“Jabatan yang kosong
harus segera diisi agar roda pemerintahan berjalan maksimal dan pelayanan
publik tidak terganggu,” tegasnya.
Menurutnya, birokrasi
yang efektif membutuhkan struktur yang lengkap dan solid. Tanpa itu, koordinasi
dan pengambilan keputusan bisa terhambat, yang pada akhirnya berdampak pada
masyarakat.
Tak hanya itu,
Thamrin juga mengingatkan kembali esensi dari jabatan publik sebagai bentuk
pengabdian kepada negara. Ia menegaskan bahwa setiap pejabat harus siap
ditempatkan di mana saja dan dalam kondisi apa pun, tanpa memilih atau menunda
tanggung jawab.
Komitmen terhadap
tugas, integritas dalam bekerja, serta keseriusan dalam mencapai target kinerja
menjadi hal yang tidak bisa ditawar dalam mendukung jalannya pemerintahan yang
baik.
“Dimanapun
ditempatkan, harus siap dan bekerja dengan sebaik-baiknya demi pelayanan kepada
masyarakat,” pungkasnya.
Dengan mutasi yang telah dilakukan, masyarakat kini menaruh harapan besar pada wajah baru birokrasi Berau. Harapan itu bukan hanya pada perubahan struktur, tetapi pada perubahan kinerja yang nyata, cepat, dan tepat sasaran.
Kini, panggung sudah
disiapkan. Para pejabat telah menempati posisi masing-masing. Tinggal satu hal
yang ditunggu: pembuktian. Sebab pada akhirnya, jabatan bukan sekadar posisi,
melainkan amanah yang harus dijawab dengan kerja nyata. (sep/FN/Advertorial)